Hei tuan..
Jika aku boleh menerka, dan jika kau izinkan, merasakah kau akan getaran ruang hampa yang ada didalam hatimu ? Ia begitu berisik ditelingaku. Seperti meronta hendak dibuka. Ia terlalu pengap akan egomu yang enggan untuk membiarkan sosok masuk kedalamnya lantaran jiwa yang terluka akibat imbas derita perasaanmu akan masa lalu.

Tuan..
Aku pun demikian. Sayatan luka yang mungkin belum seutuhnya mengering dalam hati ini akibat bacokan pengkhianatan dan kesalahan langkah lantaran ketidakpastian hati menentukan rasa, masih begitu pedih. Hingga dia alirkan pula energi keraguan untuk menerima sosok meski hanya untuk bersinggah.

Tuan..
Aku hendak jujur pada hatiku tentang dirimu. Ada nyaman yang alami memenuhi naluri untuk selalu bersamamu. Ia tidak diciptakan dengan paksaan dan kepalsuan rasa atau senyum untuk berdamai dengan keadaan. Tapi dia tercipta, mungkin karna Tuhan mengizinkan. Dan raga yang terkendali akan perasaan, membuat kenyamanan ini menjadi hampa jika tak nampak dirimu dipandangan.

Tuan..
Bisakah kau untuk tidak pergi begitu saja tanpa ada kata basa hingga membasi ? Tinggallah sejenak dengan kedua bola matamu yang teduh itu. Tak perlu sulit kau paksakan tangan untuk menyentuh apalagi mendekap. Biarkan saja dia ditempatnya. Dan jangan pula kau bebani rasamu untuk rasaku. Itu bukan menjadi urusanmu. Aku hanya perlu kau tetap disini, tuan. Meski tanpa rasa, tanpa asa. Namun jika kau demikian, silahkan saja. Beri tau aku jika kau bersedia.

Mega Puspita
Bekasi, 1/3/’18